Saturday, June 11, 2011

Persiapan itu Penting


Persiapan itu Penting

Suasana ujian memang selalu tenang seperti ini. Tenang tanpa suara maksudku. Kalau orang-orangnya sih pada sibuk sendiri. Ada yang sibuk ngitung, ada yang lagi memahami soal, ada juga yang cuma memperhatikannya tanpa mencoba mengerjakan. Yang lebih parah, ada… aja yang masih duduk membatu, nervous duluan waktu ngeliat soal.
         Aneh memang saat mengetahui seseorang yang dengan bangganya memproklamirkan bahwa dirinya nggak belajar. Hasilnya, tentu saja dia tidak bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan. Sebelumnya mereka berkata, “Aku bawa contekan. Tapi kalau tetep nggak bisa ngerjain, aku tanya kamu ya?”
Kemudian lihat saat kebetulan guru pengawas ruangan adalah guru yang sangat memperhatikan siswanya, pamawas tajem jatmika, dalam bahasa Jawa. Abracadabra! Semua kata-kata yang terlontar dari mulut anak tadi, lenyap dalam satu kerjapan mata sang pengawas.
Hmm.. Aku pikir mencontek merupakan aib, tapi kenapa mereka justru menyebarkannya? Suatu hari mereka dengan bangganya bilang, “Lihat apa yang aku lakukan tadi? Aku berhasil mencontek tanpa ketahuan.” Hmm.. Bisa mengerjakan semua soal ujian memang membuat bangga, namun apakah masih bisa kita berbangga saat menggunakan contekan? Akankah kita berbangga setelah mengerjakan ujian tanpa usaha murni? Bukankah nilai yang akan kita dapat dengan cara seperti itu merupakan kesia-siaan? Sampai kapan kita mau hidup dalam keohongan? Hey guys. This is a bright world. No darkness anymore. No stupidity anymore. So let us make it brighter.
            Sepuluh menit sebelum waktu habis, kebanyakan dari kami sudah keluar ruangan meninggalkan jawaban dengan bermacam-macam alasan. Ada yang karena sudah mantap dengan jawabannya, ada yang ragu-ragu, bahkan ada yang masih blank alias kosong melompong.
            “Aduh… Gimana ini? Soalnya susah banget! Aku nggak bisa… ahuhu..” Ini salah satunya, megeluhkan jawaban yang dibuat oleh guru. “Kalian kok malah asyik-asyik baca sih?”
            “Udahlah, nggak apa-apa, banyak juga kok yang nggak bisa. Aku aja cuma bisa beberapa.” Kata anak lain yang aku tahu pasti kalau dia berbohong. Semua juga tahu kalau dia bisa mengerjakan soal-soal tadi dengan mudah. Itu terlihat dari aura yang terpancar di wajahnya, lega. “Sekarang mending kamu belajar untuk ulangan nanti, masa mau nggak bisa juga..”
            “Huhu… Otakku ruwet. Nggak inget apa-apa bab ujian nanti..” keluhnya lagi.
            “Just so you know, yang udah berlalu itu diperbaiki, sedangkan yang akan terjadi dipersiapkan,” kata si murid teladan. “Tentu aja kamu nggak bisa memperbaiki jawabanmu yang tadi saat ini juga kan? Karena itu siapin aja untuk ulangan nanti, gunakan itu untuk memperbaiki nilaimu.”

No comments: