Cinta Karena Mengenal
Percayakah kamu pada ‘cinta pada pandangan pertama’? Kalau aku, tidak. Bagiku, cinta pada pandangan pertama hanyalah perasaan kagum bercampur terkejut. Orang yang berkata, “Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu” hanyalah merasa beruntung karena belum tidak pernah bertemu orang seperti itu sebelumnya. Begitu juga dengan orang yang berkata, “Dia benar-benar keren, sejak pertama kali melihat, aku sudah jatuh hati padanya.” Dia juga salah satu orang yang malang, tidak benar-benar mencintai, namun hanya perasaan ingin memiliki. Sungguh, mereka belumlah mengerti apa itu ‘cinta’.
Well, aku di sini bukan ingin menjelaskan, membeberkan ataupun mendefinisikan apa arti ‘cinta’. Aku hanya akan membagikan kisah mengenai remaja baru memiliki perasaan yang dangkal mengenai… tak perlu disebut kan?
* * *
“Hai, teman-teman. Tau nggak? Tadi malam saudaraku datang. Dia tuh cuakeeep banget!” Irda yang baru saja bertemu keempat sahabtnya langsung cas-cis-cus membicarakan sepupunya, ehm mungkin lebih tepat dibilang keponakannya.
“Yang bener?”
“Beneran? Terus-terus?” Shelin dan Amel yang notabene masih jomblo langsung nimbrung dalam pembicaraan.
“Iyalah, masa bo’ong. Nih, sampe aku bela-belain ambil fotonya diem-diem,” jawab Irda sambil memperlihatkan I-Phone-nya.
“Iuh…. Cakep bener, ini mah.” Noa yang sudah tidak jomblo lagi pun ikutan berkomentar begitu melihat wajah keponakan Irda.
“Umur berapa tuh?” tanya Dahlia yang sedikit banyak mulai tertarik dengan ketampanan cowok dalam kamera tersebut. Senyum lebar di wajah Irda langsung terhempas bersama hembusan nafas panjangnya begitu mendengar pertanyaan Dahlia.
“Yah… itu dia. Tapi untung juga sih dia masih anak-anak enam tahunan. Coba kalau dia udah seumuran kita, I could be falling in love with him.”
“Ehem…” terdengar deham seseorang dari balik pintu kelas XII IPA 2, diikuti tatapan mengadili darinya.
“What??” Irda yang merasa terhakimi langsung sewot.
“Jadi kamu menyukai seseorang dari tampangnya ya? Klasik banget sih.”
“Biarin klasik, yang penting aku senqng. Huh.” Berkali-kali Irda menggoyang-goyangkan tangannya masa bodoh. Cowok ini emang ngeselin banget deh. Baru aja Irda seneng ngeliat cowok ganteng, eh, suasana jadi rusak oleh kedatangan si tengil satu ini, Leo namanya.
“Yakin dengan begitu kamu akan senang? Hem… jadi berkurang deh skormu di mataku.” Leo merupakan cowok yang paling dekat dengan Irda. Walaupun kedekatan mereka bukan hanya disebabkan oleh hal-hal yang baik, namun setidaknya Leo dan Irda mengenal satu sama lain.
“Ih, siapa juga yang mau diskor olehmu. Kamu pikir aku barang?” Kejadian seperti ini bukanlah hal yang jarang terjadi di antara mereka. Karena itu, teman-temannya tidak lagi heran. Tetapi mereka juga bisa melihat dong, bagaimana sebenarnya perasaan mereka berdua –maksudnya Irda dan Leo, bukan teman-temannya-.
* * *
Tok…tok…tok…
Terdengar ketukan di pintu depan rumah Irda. Dengan malas Irda berjalan mendekati pintu dan membukanya. Terkesiap Irda melihat sosok Leo berdiri di hadapannya. Leo kini mengenakan celana panjang jeans hitam dan kaos polo warna hijau yang sangat cocok dengan warna kulit kuningnya. Bau sabun mandi masih tercium segar dari tubuhnya, mungkin dia baru saja mandi sebelum datang kesini, pikir Irda.
“Nggak dipersilakan masuk nih aku?” Ucapan Leo seketika membuyarkan kekaguman Irda terhadapnya.
“Eh, oh… Silakan, masuk aja.” Sedikit canggung Irda mempersilakan Leo masuk dan menanyakan tujuan kedatangan Leo ke rumahnya. “Apa nggak salah? Baru aja tadi di sekolah kamu ribut sama aku, sekarang mau minta aku nemenin kamu nyari kado?” Dengan ketus Irda menanggapi permintaan Leo.
“Nggak salah dong, di jalanan kan banyak cowok cakep, mungkin aja kamu tertarik nganter aku,” jawab Leo yang disambut tatapan sadis dari Irda. “Ayolah, Ir... Penting banget nih, mana kutahu apa kesukaan cewek. Jadi mau ya?” Pinta Leo, sekarang lebih lembut. Senyuman iblis pun muncul di wajah Irda yang membuat Leo sedikit khawatir.
“Ok deh. Tapi kamu harus janji setelah dapet hadiahnya, traktir aku di tempat makan yang enak! Deal?” kata Irda sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
“Haha… Deal. Kayak anak kecil aja.” Dengan senang hati Leo mengaitkan kelingkingnya pada jari Irda.
* * *
“Emang temanmu itu sukanya apa sih?” tanya Irda yang mulai kelelahan mengelilingi Malioboro untuk membeli hadiah.
“Hmm.. Dia suka perhiasan, seperti cincin, kalung, gelang, pokoknya gitu-gituan deh,” jawab Leo sambil memegang dagunya mengingat-ingat.
“Dasar dodol! Kalau sukanya perhiasan ngapain tadi kita mengelilingi toko sepatu dan baju?!” Irda mulai jengkel dengan kedodolan Leo. Ini anak, kayanya nggak henti-hentinya pengen bikin Irda kesel dan capai.
“Kamu juga nggak nanya?” balas Leo sambil memasang wajah innocent yang membuat Irda makin kesel tapi juga pengin ketawa atas kedodolannya juga. Sepertinya, mereka berdua emang sedang kurang waras.
Daripada terus-menerus marah, mereka segera memasuki toko perhiasan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Apa ya? Cincin, kalung atau gelang?” Leo melirik Irda meminta pendapat.
“Kalung aja, kalau gelang agak susah tahunya apa dia suka atau enggak, kalau cincin kesannya kamu mau ngelamar dia atau apa. Kecuali kalau kamu emang maunya gitu itu. Hehehe…” tutur Irda dan disusul cibiran dari Leo.
“Coba lihat kalung model terbarunya, mbak,” kata Leo sambil tersenyum ramah pada pegawai toko tersebut. Tampaknya senyuman Leo membuat mbak-mbak itu tersipu. Dasar senyuman maut, Irda kesal juga melihatnya.
“Kalung model terbaru ada di rak bagian sini, mas.” Pegawai toko langsung berbicara banyak mengenai kalung-kalung tersebut, seperti terbuat dari apakah kalung itu, berlapis atau berhiaskan apa saja kalung itu dan sebagainya. Ada satu kalung yang membuat mata Irda berbinar. Kalung emas putih yang panjangnya sedang dan bertahtakan batu ruby dan sapphire yang tersusun sangat manis namun tetap simple dan elegan membuat Irda terpikat. Tak henti-hentinya ia memandangi kalung tersebut. Di kepalanya hanya berisi, ‘Aku harus cepat-cepat menabung untuk membeli kalung itu sebelum diambil orang lain! Harus.’
Ctik! Jentikan jari Leo di depan mata Irda membangunkannya dari pikiran-pikiran indah. “Jadi, yang mana?” Ups. Baru sadar, di sini kan Irda datang untuk memilihkan kado. ‘Apa aku pilihkan kalung yang lain aja ya? Yang penting bukan kalung pilihanku tadi. Habis, itu kan cuma untuk temannya Leo.’ Terlintas rencana itu di pikiran Irda. “Irda, kamu udah temukan kalungnya kan? Bisa beritahu mbak ini untuk mengambilkan kalungnya? Aku hanya ingin kamu memilihkan kalung yang terbaik.” Senyuman Leo terpancar di wajah lembutnya, oke, di wajah cakepnya. Senyuman maut yang tadi kukatakan. Mau tidak mau, Irda harus melepas kalung itu. Toh, dia juga belum punya uang untuk membelinya. ‘Mungkin ketulusanku ini kan membuatku mendapatkan kalung yang lebih indah lagi,’ pikirnya.
“Iya, aku udah dapat. Kalung yang itu mbak, yang ada warna merahnya,” kata Irda ikhlas.
“Oh…kalung ruby ini ya. Pilihan yang bagus, kalung ini memang didesain untuk anak muda yang anggun. Tunggu sebentar, akan saya ambilkan tempatnya.”
Senyuman bahagia pun kembali mengembang di wajah tampan Leo.
* * *
Kelelahan mereka hari ini tergantikan dengan makanan lezat di suatu restoran yang tidak jauh dari toko perhiasan.
“Irda, tentang skor yang aku katakan di sekolah tadi siang…” Leo mulai membahas keributan mereka di sekolah tadi.
“Ya?” Terbersit perasaan yang entahlah, tidak dapat digambarkan dalam hati Irda.
“Kamu mau tahu berapa skormu di mataku?” Tanya Leo, tatapannya begitu dalam membuat Irda tidak bisa mengelak.
“Not really. Tapi, emang berapa?” Entah kenapa Irda jadi ingin tahu berapa nilainya bagi Leo.
“Nilaimu sepuluh!” Terkejut tidak percaya Irda mendengar ini. Dia pikir, Leo hanya akan memberinya nilai lima, bahkan mungkin empat. “Lalu mengenai pembicaraanmu tentang cowok cakep itu, sebenarnya itu sama sekali tidak mengurangi nilaimu. Cewek bernilai sepuluh pantas mendapatkan cowok yang memiliki nilai sebanding dengannya. Justru hal itu yang membuatku kembali menilai diriku sendiri. Mungkin saja nilaiku akan turun. Karena itu, sebelum nilaiku turun ke titik nol, aku ingin mengatakan ini, ‘Maukah kamu menerimaku untuk menjadi kekasihmu?”
Perasaan secuil kebahagiaan dalam hati Irda perlahan meningkat seiring dengan kata-kata yang meluncur dari mulut Leo, kini perasaan itu seakan meledak memenuhi relung hati Irda. Entah perasaan apakah ini. Senang namun membuat melayang, cemas namun terasa lepas. Tiba-tiba perasaan jealous, gengsi itu hilang, yang ada hanyalah…apakah ini yang dinamakan ‘cinta’?
“Seseorang mengatakan bahwa orang akan mendapatkan nilai sepuluh bila ada orang lain yang mencintainya. Sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan pernyataan itu. Kalaupun kamu berkata bahwa aku tidak sesuai untukmupun aku percaya, karena memang inilah aku. Tapi setidaknya, aku ingin mencoba. Aku mencintaimu, Irda.” Tatapan Leo kini semakin dalam dan membuatnya semakin terlihat gagah dan…tampan.
“Leo, mau tahu berapa nilaimu?” kata Irda balik bertanya.
“Berapa?” Seberkas senyuman kembali menghiasi wajahnya, namun ada setitik kecemasan di dalamnya.
“Sepuluh.” Kini mereka berdua tersenyum. “Menurutku, aku nggak lebih baik darimu, karena itu aku nggak percaya kamu memberiku nilai segitu. Kamu baik, meskipun nyebelin, pintar, jago olahraga dan yah…ku akui, kamu cakep.” Semburat merah mulai mewarnai wajah cantik Irda.
“Irda, ini untukmu. Tolong diterima ya..” Leo menyodorkan kotak merah berisi kalung yang tadi dibelinya.
“Lho, katamu tadi ini kado buat…” Benar juga, Leo belum memberitahunya untuk siapa kalung ini ia berikan.
“Buat kamu.” Leo kembali tersenyum, kali ini ia menampakkan deretat gigi putihnya. “Sini biar kubantu pakaikan.” Rona di wajah Irda bertambah merah.
“Uuh…dasar Leo nyebelin, untuk apa aku tadi sempat jealous segala. Ternyata kalung ini untuk aku,” gerutu Irda dilanjutkan cengiran dari Leo.
“Look, kamu terlihat makin cantik dengan kalung itu, my Queen.” Senyuman sangat lebar keluar begitu saja dari wajah ganteng Leo. Mungkin saat ini, wajah Irda sudah merah padam.
* * *
Kalau dipikir-pikir, untuk apa berpacaran dengan orang yang meskipun cakep banget tapi kita nggak kenal. Lebih baik pacaran dengan orang yang sudah kita kenal, sehingga dia akan menerima kita apa adanya karena telah mengetahui seperti apa sifat kita.
No comments:
Post a Comment