Dia Menjagaku
Aku punya seorang pacar, dia bersekolah di SMA yang berbeda denganku. Dia adalah pacar pertamaku. Sudah setengah tahun kami bersama. Setengah tahun pula aku merasakan suka-duka dalam berpacaran. Saat ini aku sedang berada dalam bagian duka. Sudah satu minggu, dia tidak pernah menghubingiku, tidak melalui telepon, tidak melalui sms, tidak juga melalui e-mail.
Sering aku meneleponnya, mengiriminya sms ataupun email duluan, tetapi dia tidak membalasnya. Ini adalah kali kelima aku sms dia. Setiap hari satu sms, berarti sudah empat hari dia tidak membalas smsku, semoga smsku kali ini berhasil. Ok. Aku tau kalau dia sekarang sedang sibuk menghadapi ujian nasional yang tinggal 6 bulan lagi, tapi setidaknya mengirimiku sms walau hanya satu kan tidak begitu berat, kalau nggak jawab saja teleponku dan katakan padaku terus terang kalau dia sibuk. Itu yang aku inginkan. Sayangnya, aku tidak punya cukup bekeranian untuk mengatakan itu. Mungkin karena dia adalah pacar pertamaku jadi aku belum terbiasa untuk mengungkapkan isi hatiku kepadanya.
Tring..Tring..
Yep. Satu sms masuk! Semoga dari Neo.
From : Neo
Hey, cantik. Sori ya lama aku nggak hubungi kamu. Lain kali kalo udah nggak sibuk aku telp kamu deh.. Bye, cantik
Uhuy! Dari Neo. Neo selalu saja memanggilku dengan kata ‘cantik’. Well, namaku Karin Pretty Diana. Mungkin kata pretty yang berarti cantik maksud Neo. Namun apakah cuma kecantikan wajahku yang dia lihat? Aku pikir dia berbeda dengan cowok-cowok lain yang hanya menilai orang dari tampangnya, tapi aku suka Neo.
Akhir-akhir ini, ada kabar merebak bahwa Neo sering jalan dengan cewek-cewek lain. Yep, cewek-cewek lain, berarti ceweknya lebih dari satu. Sahabatku yang memberitahuku. Entah kenapa, mendengar kabar tersebut, aku hanya tersenyum. Terkejut memang, namun tidak ada luka dalam yang menggores hatiku.
Apa yang sebaiknya aku lakukan? Sebenarnya aku hanya ingin dekat dengan Neo, tidak menjadi pacarnya pun nggak masalah bagiku. Dulu aku menganggapnya sebagai kakakku, aku yang anak tunggal jelas sangat menginginkan mempunyai sesosok kakak maupun adik. Kemudian Neo datang memasuki kehidupanku. It was so funny to being with him. Sampai akhirnya dia mengatakan tiga kata suci itu. Aku yang masih polos hanya bisa berkata ‘ya’ dengan hati berbunga-bunga. Saat itu usiaku 16 tahun, tepat saat kenaikan kelas dua SMA. Gadis seusiaku seharusnya telah mengerti apa itu cinta, suka dan sayang, tapi tidak denganku.
Di rumah, orang tuaku selalu melimpahkan kasih sayangnya kepadaku, mereka selalu berkata “Mama mencintaimu, sweetheart,” “Papa menyayangimu, nak,” “Kami sangan merindukanmu, sayang” dan masih banyak lagi ungkapan kasih sayang mereka. Terlebih saat mereka pergi jauh, pesan yang mereka sampaikan padaku hanyalah kata-kata itu dan “Jaga dirimu baik-baik”. Kemudian saat pulang, mereka selalu membawakanku oleh-oleh tanda perhatiannya padaku. Namun aku juga bukanlah anak yang dimanja oleh orang tua. Mereka selalu mengajarkan padaku apa itu berbagi dengan cara membeli sepotong kue yang sangat lezat.
“Kenapa cuma sepotong?” tanyaku bekali-kali saat itu.
“Supaya kita bisa berbagi. Kue bagian ujung sana milik papa, bagian ini milik mama dan yang tengah milik Karin..” kata mama sambil tersenyum. Ye…ye… meskipun begitu aku selalu senang mendapat kue bagian tengah, karena bagian itu yang paling manis.
Jadi ketika Neo berkata bahwa dia mencintaiku, aku pikir maksud dia sama artinya dengan ‘Bolehkah aku menjadi anggota keluargamu?’. Tanpa pikir panjang, aku segera berkata “Ya, tentu saja.”
Sekarang, di sinilah aku. Kini aku sadar bahwa maksud Neo bukanlah menjadi anggota keluarga, melainkan menjadikan aku miliknya. Aku bukanlah milik siapa-siapa, melainkan milik-Nya tempatku kembali, itulah kepercayaan yang kutanamkan pada diriku. Maka aku bebas untuk menjadi diriku sendiri.
Triing…Triing…
Sebuah pesan kembali masuk di Hpku. Ternyata sms dari Neo, lagi!
From : Neo
Cantik, besok pulang sekolah kita makan yuk! Aku tunggu di depan gerbang utama sekolahmu ya..
Apa?? Neo mengajakku jalan lagi! Aah… akhirnya. Aku kira dia akan nyuekin aku terus. Hihihi.. Tanganku dengan cepat mengetik sms balasan untuk Neo.
* * *
Uuah… Lima kali bunyi bel tanda usainya sekolah hari ini membuat banyak nafas lega keluar dari mulut siswa. Begitu juga denganku. Ye..ye..ye… itulah kelegaan yang aku ungkapkan siang ini. Hari ini Neo akan menemuiku!
Sesuai janjinya, Neo sudah berada di balik gerbang utama sekolahku. Begitu melihatku, dia melambaikan tangannya. Segera kupercepat langkah kakiku menuju Neo.
“Hai, cantik. Butuh tumpangan nggak, aku anter deh kemana aja kamu mau..” kata Neo menyapaku, jahil.
“Oh tidak, terima kasih. Aku lagi nunggu seseorang spesial yang nyebelin nih, katanya dia mau ngajak makan, tapi kok belum nongol-nongol ya,” kataku.
“Kalau gitu, biar aku aja yang jadi orang sepesial itu. Boleh enggak?” tanya Neo sambil menunjukkan ekspresi yang sangat menggoda.
“Dengan senang hati,” jawabku sambil naik ke motornya. Kami segera berangkat menuju resto yang Neo pilih. Di jalan, kami tidak banyak bicara. Sepertinya Neo sedang konsentrasi dengan jalanan yang makin hari makin penuh saja.
Sesampainya di resto, ternyata Neo telah memesan meja yang akan kami tempati. Restoran ini sangat unik dengan nuansa alam. Semua meja terbuat dari bambu, begitu juga dengan semua perabot, terbuat dari kayu. Lantainya juga terbuat dari kayu, di beberapa tempat ada air mengalir di bawahnya. Air ini menuju ke satu tempat, yaitu kolam dengan air mancur yang melalui bebatuan di tengahnya. Banyak diletakkan tanaman di luar maupun di dalam ruangan menambah keasrian restoran ini.
“Cantik, sebelum aku mengatakan tujuanku membawamu ke tempat ini, apa ada yang mau kamu katakan kepadaku?” tanya Neo begitu kami telah menyantap hidangan di restoran ini.
“Kok kamu tiba-tiba nanya gitu? Uhm..sebenernya aku bingung dengan sikap kamu akhir-akhir ini. Juga soal kabar tentangmu. Apa yang mereka katakan itu benar?” tanyaku begitu saja.
“Karin, sebenernya selama ini aku nggak tau harus bersikap gimana ke kamu. Aku cuma nggak mau nyakitin kamu.” Aku rasa aku tau apa maksud Neo.
“Aku juga. Aku tidak ingin sakit dan disakiti. Maka saat aku bertemu denganmu dan kamu mengatakan tiga kata itu, aku hanya mempercayaimu, berharap kamu sunggu-sungguh mengatakannya. Kemudian saat kutahu kau bersama orang lain, aku hanya tersenyum. Lalu saat kutahu kau bersamaku hanya untuk bersenang-senang, kenapa tidak aku melakukannya juga..” Kataku panjang lebar mengungkapkan apa yang aku rasakan.
“Bukan gitu, Karin. Bukan itu yang aku maksud. Aku nggak pernah mendekatimu hanya untuk bersenang-senang.” Kalau bukan untuk bersenang-senang, lalu kenapa dia menjauhiku dan malah mendekati gadis lain? “Aku hanya berpikir kalau aku bukanlah orang yang baik bagimu.” Ucapan Neo membuatku semakin bingung. Tidak baik apanya? Dia sangat baik, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri, ehm, kalau sekarang sebagai pacar.
“Kamu sangat baik, Neo. Tentu saja kamu cocok…”
“Enggak, Karin. Kamu terlalu baik bagiku. Kamu bagaikan mutiara yang baru saja keluar dari kerangmu, begitu putih, begitu berharga.. Dan sepertinya aku nggak akan sanggup memilikimu. Yang aku bisa hanyalah menjagamu dan memandangimu.” Ada apa dengan Neo? Kenapa tiba-tiba dia bicara seperti ini? Aku tidak ingin dia melihatku seperti itu.
“Neo, aku bukanlah mutiara. Ok. Kalau aku masih putih, itu karena aku masih harus belajar banyak mengenai kehidupan, dan itulah kenapa kamu berada di sini, kamu yang akan mengajariku tentang bagaimana menjalani hidup di dunia ini kan?” Aku sangat berharap dia berkata ‘ya’.
“Ya, aku akan mengajarimu.” Rasanya senyumku kembali merekah saat ini. “Tapi aku hanya akan mengajarimu dan melindungimu. Jadi carilah cintamu, karena itu bukanlah aku.”
“Tapi, kamu…” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Ucapan Neo memang benar. Bukan Neo cowok yang aku cintai, tapi saat ini aku belum menemukannya sehingga Neolah yang ada dalam pikiranku.
“Kamu tahu lukisan kan? Bagiku, kamu bagaikan lukisan, sangat indah, sangat menawan. Namun aku tidak seharusnya memilikimu. Karena kamu bak lukisan, maka aku hanya dapat memandang keindahanmu. Karena kamu bak lukisan, maka ada orang lain yang lebih cocok bersamamu. Dialah pemilik lukisan, dia orang yang paling mengerti kamu karena dia telah lebih dahulu mengenalmu. Mungkin kalimat itu yang pantas aku ungkapkan agar kamu percaya.”
* End *
No comments:
Post a Comment